Fajar Adriyanto, Pilot yang Sergap Pesawat Tempur AS Gugur dalam Kecelakaan Pesawat Latih
Marsma Fajar meninggal dunia dalam insiden kecelakaan pesawat latih di Ciampea, Bogor, Jawa Barat, tadi pagi. Pesawat jatuh tersebut jenis Microlight Fixedwing Quicksilver GT500 dengan register PK-S126. Pesawat dikemudikan Marsma TNI Fajar sebagai pilot dan Roni sebagai kopilot.
Pesawat lepas landas dari Lanud Atang Sendjaja pukul 09.08 WIB pagi tadi dalam rangka misi latihan profisiensi penerbangan olahraga dirgantara. Pesawat lalu hilang kontak dan ditemukan terjatuh.
Pesawat latih milik FASI (Federasi Aerosport Seluruh Indonesia) tersebut dalam kondisi baik saat latihan dilakukan. Penyebab kecelakaan saat ini masih diselidiki.
Sementara Kopilot Roni mengalam luka berat. Dia saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Sosok Marsma Fajar Adriyanto
Fajar Adriyanto salah satu pilot terbaik TNI AU. Dia dulu adalah penerbang pesawat tempur F-16, sebelum kemudian menerbangkan Sukhoi. Dia juga terlibat dalam insiden Bawean tahun 2003.
Apa Itu Insiden Bawean 2003
Insiden Bawean TNI AU 2003 adalah peristiwa di mana dua pesawat F‑16 TNI Angkatan Udara menyergap lima pesawat tempur F/A‑18 Hornet milik US Navy yang berada di atas Laut Jawa dekat Pulau Bawean, tanggal 3 Juli 2003
Kronologi Insiden
Pada sekitar pukul 11:38 WIB, radar sipil dan militer mendeteksi lima pesawat tak dikenal melakukan manuver di jalur penerbangan sipil “Green 63” sekitar pulau Bawean, tanpa kontak radio dengan pengawas lalu lintas udara
Setelah sempat hilang dari radar, pesawat tersebut kembali muncul 2–3 jam kemudian. Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional (Popunas) memerintahkan penyergapan oleh dua F‑16 Block 15 OCU dari Skadron 3 TNI AU yang lepas landas dari Lanud Iswahjudi
Jet‑jet tersebut dipiloti oleh Kapten Ian Fuady & Kapten Fajar Adriyanto (TS‑1603), serta Kapten Tonny Harjono & Kapten Satriyo Utomo (TS‑1602). Masing‑masing F‑16 dilengkapi dengan rudal AIM‑9P‑4 dan kanon 20 mm, namun mereka diperintah hanya melakukan identifikasi visual, tanpa mengunci target
Aksi di Langit dan Isyarat Damai
Di udara terjadi perang elektronik (jamming radar) antara F‑16 Indonesia dan F/A‑18 AS. F‑16 dilaporkan sempat dikunci (radar lock-on) oleh jet Hornet AS, tapi pilot Indonesia berhasil mengatasi gangguan dan tetap menjaga posisi aman
Setelah konflik singkat berlangsung sekitar 18 menit, salah satu F‑16 melakukan manuver “rock the wing” sebagai isyarat persahabatan internasional. Komunikasi radio pun tercipta, menyatakan bahwa TNI AU sedang melaksanakan intercept. Pihak AS menjawab bahwa mereka berada di airspace internasional dan meminta F‑16 menjauh
Penutup dan Dampak Diplomatik
Setelah komunikasi, pesawat F/A‑18 AS kembali ke armadanya di kapal induk USS Carl Vinson, sementara F‑16 Indonesia kembali ke pangkalan tanpa eskalasi lebih lanjut
Pemerintah Indonesia kemudian mengajukan protes diplomatik kepada Amerika Serikat karena dianggap telah melanggar kedaulatan udara, walaupun AS menyatakan telah memberi notifikasi, namun tidak sampai ke Kohanudnas karena birokrasi terlambat