DPR RI: Program MBG Hapus Sekat Sosial Siswa di Sekolah, Tak Ada Alasan Dihentikan
Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (BHS), menegaskan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi dan semangat belajar siswa, tetapi juga berperan penting dalam menghapus sekat sosial di lingkungan sekolah.
Pernyataan tersebut disampaikan BHS saat meninjau pelaksanaan pembagian makanan bergizi di YPM YP4 Taman, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Selasa, 7 Oktober 2025.
Menurutnya, antusiasme siswa terhadap program MBG sangat tinggi. Mayoritas peserta didik bahkan mengaku tidak membawa bekal dari rumah dan hanya mengandalkan uang saku yang jumlahnya terbatas.
“Hampir 100 persen siswa di sini tidak dibekali makan dari rumah. Ada yang hanya membawa uang Rp5.000 atau Rp10.000, tentu tidak cukup untuk membeli makanan bergizi,” ujar BHS di sela kunjungan tersebut.
Politisi Gerindra itu menilai, MBG telah memberi manfaat besar bagi kesehatan dan kebersamaan siswa. Kegiatan makan bersama, lanjutnya, mampu menumbuhkan rasa kesetaraan sosial tanpa membedakan latar belakang ekonomi.
“Dengan adanya MBG, anak-anak bisa makan bersama, lebih semangat, dan tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang kurang mampu. Kebersamaan ini menumbuhkan solidaritas dan kemandirian,” tambahnya.
Selain meningkatkan kesehatan dan konsentrasi belajar, BHS juga menyoroti peran penting MBG dalam mencegah stunting dan obesitas pada anak-anak. Ia menyebut program tersebut telah berhasil menyentuh jutaan penerima manfaat di seluruh Indonesia dan terbukti efektif.
“Program ini luar biasa. Tingkat kegagalannya sangat kecil, hanya sekitar 13 per 100 ribu penerima manfaat. Jadi, tidak ada alasan untuk menghentikannya, karena manfaatnya nyata bagi kecerdasan siswa dan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Nilai Sosial Tinggi, Hapus Sekat Ekonomi di Sekolah
Tak hanya aspek gizi, program MBG juga dinilai membawa dampak sosial yang signifikan. Dengan penyediaan menu bergizi yang sama bagi seluruh siswa, perbedaan antara anak dari keluarga mampu dan kurang mampu semakin pudar.
“Anak-anak jadi lebih kompak, tidak ada rasa minder. Ini bukan sekadar soal makanan, tetapi tentang membangun kebersamaan dan persatuan di sekolah,” katanya.
Hal senada disampaikan Wakasek Kesiswaan YPM 4 Taman, Toto Dwiyono, yang mengapresiasi keberadaan program MBG karena membantu siswa dari sisi kesehatan dan efisiensi waktu.
“Anak-anak jadi lebih teratur dan bersemangat. Kami berharap ke depan guru juga dapat menikmati program ini, agar dapat memastikan keamanan dan kualitas makanan yang disajikan,” ujarnya.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan inisiatif nasional yang digagas pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi peserta didik, menciptakan generasi sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Dengan manfaat yang luas, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun sosial. BHS menegaskan tidak ada alasan untuk menghentikan program MBG. Justru, program ini harus diperkuat agar semakin banyak siswa Indonesia yang merasakan manfaatnya.