Dedikasi Mbah Jalal: Dua Dekade Menjaga Makam Leluhur dari Dalam Pohon Beringin
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, seorang pria paruh baya bernama Jalal, memilih jalan hidup yang berbeda. Selama hampir dua dekade, ia tinggal di sela akar pohon beringin besar di Desa Ganting, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Sejak 2004, Jalal, yang akrab disapa Mbah Jalal memutuskan untuk menetap di area makam Mbah Kluntung, tokoh yang diyakini sebagai pembabat alas desa.
Awalnya ia hanya tidur di pendopo makam. Namun, pada 2008 ia membangun rumah sederhana dari bambu dan papan di sela akar pohon beringin untuk menjaga tempat tersebut tetap lestari.
“Dulu makam ini kurang terawat. Saya ingin menjaganya agar generasi sekarang dan mendatang tidak lupa pada sejarah desa,” ucapnya saat ditemui di lokasi, Senin 15 September 2025.
Meski hidup di tengah alam, aktivitas Mbah Jalal tak jauh berbeda dengan warga lainnya. Saat hujan deras, ia menutup atap rumahnya dengan banner dan plastik agar tetap kering.
Untuk makan sehari-hari, ia membeli di warung sekitar dan bekerja sebagai peternak ayam dan kambing milik warga Magersari. Selain itu, ia juga menjadi marbot di musala dekat makam, membuatnya semakin menyatu dengan lingkungan sekitar.
Di balik kehidupannya yang sederhana, Mbah Jalal memiliki keluarga yang tetap mendukung keputusannya. Ia tinggal terpisah dengan istri dan dua anaknya, namun hubungan mereka tetap hangat.
“Kalau ingin bertemu, istri dan anak-anak sering main ke sini. Mereka mengantarkan makanan dan sudah terbiasa dengan saya yang lebih banyak di sini,” katanya sambil tersenyum.
Pilihan hidupnya mungkin terlihat tidak biasa bagi banyak orang, tetapi bagi Mbah Jalal, tempat tinggalnya bukan sekadar rumah. Pohon beringin tua itu adalah simbol dedikasi, sejarah, dan keteguhan hati untuk merawat warisan leluhur desa.