CEO Persela Lamongan Mundur, Buntut Istri Akuisisi PSIS Semarang
Sepak bola di Lamongan memanas. CEO Persela Lamongan, Fariz Julinar Maurisal, mendadak mengundurkan diri. Pernyataan itu diunggah di akun pribadinya, @farizjulinarmaurisal, Jumat 21 November 2025. Dengan kalimat pembuka : "Perpisahan bukan akhir dari segalanya"
Kontan saja kabar ini menjadi perbincangan hangat publik warga Kota Soto tersebut. Kebanyakan, dikaitkan dengan akuisisi PSIS Semarang oleh Datu Nova Fatmawati.
Tidak lain, istri sang CEO Persela, Fariz Julinar Maurisal, dengan mayoritas kepemilikan saham. Akuisi yang juga beredar di media sosial.
Terlebih di media sosial, khususnya di akun terkait Persela dan supporter. Beragam komentar pun bermunculan. Dari kritikan, curiga, hingga kecemasan.
Alasannya, karena Persela dan PSIS berada dalam satu grup di laga Pegadaian Championship 2025/26.
PSIS prestasinya sedang terpuruk. Sebagai juri kunci klasemen sementara.
Supporter Tidak Hadiri Undangan Pertemuan Fariz
Sebenarnya CEO Fariz sempat mengundang pertemuan kepada dua kelompok supporter Persela. Yakni,Curva Boys dan L.A Mania di waktu berbeda
Hanya, kedua kelompok supporter bersepakat tidak menghadiri undangan tersebut. Mereka sepakat tidak hadir, sebagai sikap tegas atas langkah keluarga Fariz untuk mengakuisisi tim lain. Dinilai, berpotensi memunculkan konflik kepentingan dalam pengelolaan klub.
Curva Boys Munculkan Manivesto
Menurut pentolan Curva Boys, Basir, keputusan tersebut menunjukkan hilangnya prinsip fair play dan profesionalisme dalam mengelola klub.
"Pertama kami sangat terkejut. Kami tidak sependapat dengan langkah manajemen sekarang, Pak Fariz. Mengingat dalam sepakbola ada prinsip fair play. Dan dalam pengelolaan tim profesiaonal, setiap pengelola dituntut untuk bisa menghindari konflik kepentingan," katanya, Jumat 21 November 2025.
Selain itu. Basir juga menyatakan, akuisisi ini berpotensi membawa dampak buruk bagi Persela, terutama jika terbukti menabrak aturan kompetisi.
"Kami semua sangat menyayangkan dan kawatir akan dampak buruk bagi tim Persela ke depan. termasuk jika ada regulai yang dilanggar," imbuhnya.
Bahkan,masih menurut Basir, sikap tegas Curva Boys secara dicantumkan dalam manifesto yang mereka unggah melalui akun Instagram organisasi.
Intinya, menuntut keras manajemen untuk menepati janji yang sering diungkapkan untuk membawa Persela promosi ke Super League.
Terkait penolakan menghadiri undangan manajemen, Basir beralasan demi mencegah situasi kian memanas.
"Demi menjaga kebaikan bersama, terutama antara kami dengan manajemen. Hal yang mengejutkan seperti ini bisa memicu konflik lebih besar. Kita fokus menenangkan diri dulu. Kalau nanti situasi sudah tenang, baru kita bicara baik-baik untuk Persela yang lebih baik," paparnya.
L.A Mania Khawatir Manajemen Tidak Sepenuh Hati
Senada, pentolan L.A Mania, Amar. Ia menilai, akuisisi PSIS oleh keluarga Fariz membuka ruang besar bagi konflik kepentingan.
Terlebih kedua klub berada di level kompetitif yang sama dan grup yang sama. Grup Timur Pegadaian Championship 2025/26.
"Rawan keterpihakan hanya karena berlandaskan bisnis," ujarnya.
Apalagi soal prioritas manajemen. Setelah resmi mengakuisisi mayoritas saham PSIS, dikhawatirkan tidak lagi sepenuhnya untuk Persela,
"Bisa jadi separuh hati, terutama kepada Persela, Apalagi saham Pak Fariz tidak begitu besar," tuturnya.
Amar bahkan mengusulkan agar Persela dipimpin oleh manajer yang lebih fokus dan profesional. "Ganti manajer yang benar-benar mampu mengelola tim sepak bola," ucapnya.