CEO Jeju Air Minta Maaf, Pesawat Mendarat Tanpa Roda hingga Meledak
Pesawat Jeju Air dengan nomor penerbangan 7C2216 melakukan penerbangan dari Bangkok, Thailand, Minggu 29 Desember 2024. Sekitar pukul 09.07 pagi waktu setempat, kecelakaan terjadi di Bandara Internasional Muan, Korea Selatan.
Berdasarkan laporan media Korea Selatan, pesawat yang membawa 173 warga negara Korea Selatan, 2 warga negara Thailand, dan 6 awak pesawat tersebut, mendarat dengan roda pendaratan depan terangkat.
Pesawat tersebut lantas tergelincir sampai ujung landasan dan menabrak dinding di landasan pacu. Pesawat juga dilaporkan menabrak sekawanan burung hingga menyebabkan kerusakan pada roda pendaratan.
Akibat kecelakaan tersebut, pesawat Jeju Air meledak dan terbakar. Pesawat itu hampir hancur total akibat ledakan itu. Asap hitam mengepul di sekitar lokasi.
Permohonan Maaf CEO Jeju Air
CEO Jeju Air, Kim I-bae dan para pejabat membungkuk untuk meminta maaf atas kecelakaan pesawat mereka. Pesawat tidak memiliki riwayat kecelakaan.
Kim menyampaikan belasungkawa paling mendalam kepada keluarga korban yang meninggal dalam kecelakaan tersebut. Ia menegaskan, perusahaan akan memberikan dukungan kepada keluarga korban yang sebagian besar berasal dari daerah Muan.
"Pertama-tama, saya ingin mengucapkan permohonan maaf kepada semua yang peduli dengan Jeju Air. Pada 29 Desember, sekitar pukul 9:03 pagi, pesawat dengan nomor penerbangan Bangkok-Muan 7C2216 mendarat di Bandara Internasional Muan, namun kebakaran terjadi," tulis CEO Jeju Airlines, Instagram @jejuair_official, Minggu, 29 Desember 2024 sore.
Jeju Air sedang menunggu hasil penyelidikan resmi dari instansi pemerintah terkait untuk menentukan penyebab kecelakaan.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk memberikan pelatihan kecelakaan cepat dan dukungan kepada keluarga korban. Kami bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk mengungkap penyebab insiden ini," lanjutnya.
Kecelakaan ini menjadi insiden fatal pertama dalam sejarah Jeju Air, yang didirikan pada tahun 2005. Maskapai ini belum pernah mengalami kecelakaan fatal. Pada 2007, pesawat Bombardier Q400 hanya tergelincir akibat angin kencang di Bandara Internasional Gimhae, yang mengakibatkan beberapa penumpang terluka.
Korban Tewas Tidak Ada WNI
Kondisi pesawat yang meledak dan terbakar sempat menimbulkan kesulitan dalam evakuasi korban. Begitu pihak berwenang berhasil memadamkan api, operasi pencarian dan penyelamatan korban langsung dilakukan di lokasi kecelakaan.
Laporan terkini, pemadam kebakaran Korsel melaporkan korban tewas berjumlah 176 orang, dikutip dari BBC. Sementara itu, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Judha Nugraha, tidak ada Warga Negara Indonesia (WNI) jadi korban insiden tersebut.