Catur, Suporter Timnas Pertama yang Meninggal Akibat Tembakan Petasan
Jakarta: Suporter sepakbola meninggal memang kerap terjadi di Indonesia. Namun, suporter Timnas Indonesia meninggal lantaran terkena ledakan petasan baru pertama dialami. Korbannya, Catur Yuliantono, 32 tahun, warga Duren Sawit, Jakarta Utara saat laga persahabatan antara Timnas Indonesia vs Fiji, kemarin.
Sebelum Catur Yuliantono, ada dua lagi suporter Timnas Indonesia yang meninggal dunia saat memberikan dukungan dalam stadion. Namun penyebabnya bukan lantaran, flare smoke bomb atau kembang api yang sudah dilarang oleh FIFA masuk stadion.
Pada 2011 lalu, Reno Alvino berusia 21 tahun,meninggal saat mendukung Timnas U-23 Indonesia kontra Malaysia yang berlaga di babak final SEA Games 2011. Reno meninggal dunia karena berdesak-desakan dengan suporter lain di pintu masuk Sektor 15 Stadion Utama Gelora Bung Karno (SU GBK).
Korban kedua adalah Aprilianto Eko Wicaksono yang masih berusia 14 tahun. Kajadiannya juga sama saat mendukung Timnas Indonesia menjamu Malaysia di laga final SEA Games 2011. Peyebabnya, terjatuh dalam lubang pintu masuk dan terinjak-injak oleh suporter Timnas Indonesia lainnya yang berdesakan.
Sementara di dunia, suporter meninggal karena flare, smoke boms maupun kembang api pernah juga terjadi. Bahkan sudah ada korban jiwa pada 26 Oktober 1986. Terjadi di Liga Yunani antara AEL FC dan PAOK FC, seorang penonton dilaporkan tewas akibat flare.
Pada Februari 2013 di Bolivia, seorang suporter San Jose bernama Kevin Beltran yang masih berusia 13 tahun meninggal karena lemparan flare. Menurut dokter yang menangani dikutip dari halaman ESPN, sang anak terluka serius di bagian organ kepala karena api yang masuk melalui matanya.
Di Indonesia, PSSI maupun operator kompetisi PT Liga Indonesia sudah berulang kali memberikan sanksi kepada klub yang masih membiarkan flare, smoke bomb dan kembang api yang masuk dalam stadion.
Namun ironisnya, ketika PSSI yang bertindak sendiri sebagai Panpel pertandingan antara Timnas Indonesia vs Timnas Fiji, justru tak bisa memberikan contoh pengamanan yang baik. Tembakan petasan roket muncul usai pertandingan. Catur Yuliantono yang menjadikan sepakbola sebagai hiburan keluarga, tewas sia-sia di depan dua adik iparnya yang masih berusia 13 tahun. tom