Bencana di Jateng Masih Tinggi, Ahmad Luthfi Tegaskan Pentingnya Pencegahan dan Edukasi
Jawa Tengah masih masuk daftar tiga besar provinsi dengan jumlah kejadian bencana tertinggi di Indonesia sepanjang 2025. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan pentingnya upaya pencegahan, edukasi masyarakat, dan kesiapsiagaan untuk mengurangi dampak bencana di wilayahnya.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sejak Januari hingga 23 Juni 2025, terjadi 1.713 kejadian bencana di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, Jawa Barat menempati posisi tertinggi dengan 243 kejadian, disusul Jawa Timur sebanyak 199 kejadian, dan Jawa Tengah di posisi ketiga dengan 162 kejadian.
Ragam Bencana di Jateng, Mulai dari Banjir hingga Cuaca Ekstrem
Gubernur Ahmad Luthfi menyebut, selama periode 1 Januari hingga 31 Mei 2025, Jawa Tengah mengalami 152 kejadian bencana, terdiri dari:
Banjir: 86 kejadian
Tanah Longsor: 17 kejadian
Cuaca Ekstrem: 42 kejadian
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): 1 kejadian
Kebakaran Permukiman: 6 kejadian
Potensi bencana di Jateng hingga akhir tahun 2025 masih harus diwaspadai, antara lain kekeringan, karhutla, banjir rob, gelombang tinggi, angin kencang, gempa bumi, dan tsunami.
“Jawa Tengah ini market bencana nasional. Semua jenis bencana ada di sini. Ada air yang tidak bisa kita lawan, rob yang tidak bisa kita cegah tanpa intervensi serius, termasuk banjir,” ujar Ahmad Luthfi saat menghadiri Jambore Nasional ke-3 Relawan Muhammadiyah Aisyiyah di Wonder Park, Tawangmangu, Karanganyar, Kamis, 26 Juni 2025.
Tingginya Risiko Bencana di Jawa Tengah Karena Faktor Geologi dan Topografi
Luthfi menjelaskan, tingginya angka bencana di Jateng tidak lepas dari kondisi geologi dan topografi daerah. Jawa Tengah terbagi dalam tujuh zona geologi rawan, mulai dari Perbukitan Rembang, Pegunungan Kendeng, Pegunungan Serayu, hingga kawasan pesisir Utara dan Selatan. Ditambah lagi dengan kondisi klimatologi tropis yang ditandai curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem.
Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) tahun 2024, Jawa Tengah berada di kategori risiko bencana kelas sedang dengan skor 99,61.
Langkah Pencegahan Bencana di Jateng: Mangrove dan Pengurangan Air Tanah
Menurut Ahmad Luthfi, salah satu bentuk pencegahan adalah normalisasi sungai, penguatan tanggul, dan program Mageri Segoro dengan penanaman mangrove besar-besaran, terutama di wilayah pesisir yang rawan rob dan abrasi.
Selain itu, masyarakat diimbau mengurangi penggunaan air tanah yang menyebabkan turunnya muka tanah dan mempercepat intrusi air laut. Pemerintah juga terus memperluas akses air bersih melalui Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan teknologi desalinasi.
“Kalau tidak ada edukasi, masyarakat tetap pakai air tanah, akhirnya tanah turun, rob makin parah. Solusinya harus simultan, mulai dari infrastruktur sampai edukasi masyarakat,” tegasnya.
Pentingnya Peran Relawan dan Edukasi Tanggap Bencana di Jawa Tengah
Ahmad Luthfi menekankan, peran relawan tanggap bencana di tingkat desa, kecamatan, hingga provinsi sangat penting dalam mempercepat respon darurat saat bencana terjadi. Selain itu, edukasi kebencanaan harus digalakkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
“Relawan adalah ujung tombak. Masyarakat kita harus paham bagaimana mitigasi, bagaimana tanggap saat bencana datang. Ini bagian dari membangun masyarakat yang tangguh bencana,” tutup Luthfi.