Banyuwangi Jadi 'Sniper' Pembangunan, Sukses Berinovasi Meski Anggaran Terbatas
Keterbatasan anggaran tidak selalu menjadi penghalang pembangunan. Bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, Jawa Timur, kondisi tersebut justru menjadi pemicu untuk menghadirkan berbagai inovasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Asisten Administrasi Umum Pemkab Banyuwangi Budi Santoso mengatakan daerah yang dipimpinnya harus bekerja secara efektif dan tepat sasaran dalam memanfaatkan setiap rupiah anggaran yang dimiliki.
"Kita ini harus bisa menjadi sniper. Satu peluru harus bisa menembak satu sasaran," ujar Budi saat memberikan sambutan dalam Media Gathering Pertamina 2026 di Banyuwangi, Jumat 10 Juli 2026.
Menurutnya, Banyuwangi tidak memiliki kemewahan fiskal seperti sejumlah daerah penghasil minyak dan gas. Karena itu, pemerintah daerah dituntut mampu menyusun program pembangunan yang efisien namun berdampak besar bagi masyarakat.
APBD Banyuwangi Terbatas, Prestasi Nasional Tetap Berderet
Budi membandingkan kondisi Banyuwangi dengan daerah kaya sumber daya alam seperti Bojonegoro yang memiliki kapasitas anggaran jauh lebih besar.
Sementara itu, APBD Banyuwangi hanya sekitar Rp3 triliun, dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar Rp800 miliar.
Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menghalangi Banyuwangi mencatatkan berbagai prestasi nasional.
Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu beberapa kali meraih penghargaan sebagai pemerintah daerah berkinerja terbaik, memperoleh predikat tertinggi dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), hingga menjadi daerah terbaik dalam penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). "Keterbatasan justru membuat kami harus berpikir lebih kreatif dan inovatif," kata Budi.
Pariwisata Jadi Strategi Utama Pembangunan Banyuwangi
Menyadari tidak memiliki keunggulan sebagai kawasan industri manufaktur seperti wilayah Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, maupun Mojokerto, Banyuwangi memilih menjadikan sektor pariwisata sebagai motor utama pembangunan daerah.
Menurut Budi, investasi di sektor pariwisata menjadi pilihan paling efektif karena mampu memberikan manfaat ekonomi secara cepat hingga ke masyarakat akar rumput.
"Pariwisata adalah investasi paling murah dan paling cepat yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat," ujarnya.
Ia menjelaskan, ketika pariwisata menjadi prioritas, seluruh sektor pembangunan ikut bergerak secara bersamaan.
"Begitu kita jualan pariwisata, tidak ada lagi alasan jalan jelek. Infrastruktur harus bagus karena kita sedang menjual wisata. Pertanian, perikanan, UMKM semuanya ikut bergerak mendukung," jelasnya.
Kawah Ijen hingga G-Land Jadi Andalan Wisata Banyuwangi
Banyuwangi memiliki sejumlah destinasi wisata kelas dunia yang menjadi modal utama pengembangan pariwisata.
Di antaranya adalah fenomena Blue Fire Kawah Ijen, kawasan konservasi penyu Sukamade, hingga G-Land atau Pantai Plengkung, yang dikenal sebagai salah satu lokasi selancar terbaik di dunia.
Namun, menurut Budi, arah pengembangan pariwisata kini tidak lagi hanya mengandalkan panorama alam.
Pemkab Banyuwangi mulai mendorong konsep experiential tourism, di mana wisatawan diajak merasakan pengalaman langsung bersama masyarakat, seperti menyangrai kopi bersama petani lokal maupun mengikuti aktivitas budaya daerah.
Festival Budaya Banyuwangi Gerakkan Ekonomi Warga
Selain wisata alam, Banyuwangi juga mengandalkan berbagai festival budaya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Dua agenda terbesar yang rutin digelar yakni Banyuwangi Ethno Carnival dan Gandrung Sewu, yang masuk dalam agenda pariwisata nasional.
Budi mengatakan, Gandrung Sewu yang melibatkan sekitar 1.500 penari bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan penggerak ekonomi daerah.
"Sebagian besar penarinya anak sekolah. Yang mengantar bukan hanya orang tuanya, tetapi juga keluarga besarnya. Mereka datang beramai-ramai ke Banyuwangi," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat tingkat hunian hotel meningkat drastis. Bahkan, sejumlah fasilitas pemerintah seperti sekolah dan kantor instansi dimanfaatkan sebagai tempat menginap sementara karena tingginya jumlah pengunjung.
Selain sektor akomodasi, pelaku UMKM, pedagang makanan dan minuman, hingga penyedia transportasi juga memperoleh manfaat ekonomi selama penyelenggaraan festival.
Efisiensi Anggaran, Banyuwangi Tour de Ijen 2026 Ditiadakan
Di tengah kondisi keuangan nasional yang menuntut efisiensi belanja daerah, Banyuwangi tahun ini memutuskan tidak menggelar ajang balap sepeda internasional Banyuwangi Tour de Ijen.
Keputusan tersebut diambil sebagai bagian dari penyesuaian terhadap kebijakan pemerintah pusat mengenai pembatasan kegiatan yang memerlukan anggaran besar.
Meski demikian, Budi menegaskan penghentian sementara satu agenda tidak mengurangi semangat pemerintah daerah untuk terus berinovasi.
"Keterbatasan justru membuat kami terus mencari solusi yang lebih kreatif," katanya.
Kunci Sukses Banyuwangi: Super Team, Bukan Superman
Menutup pemaparannya, Budi menilai keberhasilan Banyuwangi dibangun melalui kerja sama lintas sektor, bukan bergantung pada satu figur pemimpin.
Menurutnya, Bupati Banyuwangi selalu menanamkan budaya kerja kolaboratif di lingkungan birokrasi.
"Kami bekerja bukan sebagai Superman, melainkan Super Team. Sehebat apa pun bupati, tanpa dukungan birokrat dan masyarakat, tidak akan terjadi apa-apa," pungkas Budi.