Banjir Hoaks di Era Digital, Empat Pilar MPR Dinilai Penting Jaga Persatuan
Derasnya arus informasi di media sosial membuat masyarakat semakin mudah menerima dan menyebarkan berbagai informasi. Kondisi tersebut dinilai perlu diimbangi dengan pemahaman kebangsaan yang kuat agar masyarakat tidak mudah terpengaruh hoaks maupun isu yang berpotensi memicu perpecahan.
Dosen FISIP sekaligus pengajar Magister Ilmu Politik Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Dr. Darsono, menilai sosialisasi Empat Pilar MPR RI memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan sosial dan politik di era digital.
Menurut Darsono, perkembangan teknologi informasi telah membawa disrupsi sosial politik yang cukup besar. Karena itu, pemahaman mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara perlu terus diperkuat di tengah masyarakat.
“Di era digital sekarang terjadi disrupsi sosial politik yang luar biasa. Karena itu, saya sangat apresiatif terhadap sosialisasi Empat Pilar MPR yang dilakukan secara intensif,” kata Darsono, Senin, 14 September 2026.
Ia berharap peserta sosialisasi tidak hanya memahami materi yang disampaikan, tetapi juga ikut menyebarkan nilai-nilai kebangsaan kepada orang-orang di sekitarnya.
Transfer pengetahuan tersebut, lanjut Darsono, dapat dimulai dari lingkungan keluarga dan kemudian diteruskan kepada masyarakat. Dengan demikian, pemahaman mengenai nilai kebangsaan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), mengatakan sosialisasi Empat Pilar MPR RI juga menjadi sarana untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap informasi yang belum tentu benar.
Menurut BHS, masyarakat perlu mendapatkan informasi yang utuh mengenai berbagai program dan kebijakan pemerintah sehingga tidak mudah terpengaruh oleh kabar bohong yang beredar di ruang digital.
“Ini salah satu upaya agar masyarakat tidak terpancing hoaks yang selama ini beredar. Melalui sosialisasi Empat Pilar, kami menyampaikan kondisi dan program pemerintah yang sudah diberikan untuk masyarakat,” ujar BHS.
Selain persoalan hoaks, BHS menyoroti pentingnya keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai program tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi generasi muda, tetapi juga dapat menjadi sarana menanamkan nilai kebersamaan.
BHS mencontohkan penerapan MBG yang memberikan makanan kepada siswa tanpa membedakan latar belakang ekonomi. Menurutnya, kesetaraan dalam mendapatkan makanan bergizi dapat menjadi bagian dari upaya membangun rasa kebersamaan sejak usia sekolah.
“Dengan MBG, siswa dari kalangan atas maupun bawah mendapatkan makanan yang sama. Harapannya tidak ada perbedaan dan kebersamaan tetap terjaga. Karena itu, MBG harus dilanjutkan,” kata BHS.
Di tengah cepatnya penyebaran informasi melalui media sosial, penguatan nilai kebangsaan dinilai menjadi semakin relevan. Sosialisasi Empat Pilar diharapkan tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga mendorong masyarakat lebih kritis dalam menyaring informasi sekaligus menjaga persatuan di lingkungan masing-masing.