Bahasa Bojonegoro hingga Surabaya Dibahas dalam Diskusi Jurnalistik Berbahasa Jawa
Jurnalistik berbahasa Jawa memiliki tantangan tersendiri dibandingkan jurnalistik berbahasa Indonesia. Perbedaan logat, dialek, hingga penulisan ejaan menjadi pembahasan dalam diskusi mengenai jurnalistik berbahasa Jawa yang menghadirkan penulis Majalah Panjebar Semangat, Kukuh S. Wibowo, serta sejumlah pegiat sastra dan bahasa Jawa.
Acara Saresehan Bedhah Buku dan Santiaji Sastra Jawa oleh yang digelar Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) di Bojonegoro, Rabu 22 Juli 2026. Acara dibuka oleh Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah, dihadiri pegiat sastra Jawa, guru berbahasa Jawa dan para jurnalis yang mengelola media berbahasa Jawa.
Dalam paparannya, Kukuh S. Wibowo menjelaskan bahwa media berbahasa Jawa harus mampu menjangkau pembaca dari berbagai daerah yang memiliki karakter bahasa berbeda, seperti dialek Malangan, Banyumasan, Surabayaan, hingga daerah lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Ia mencontohkan pengalamannya saat menulis di Majalah Panjebar Semangat. Menurutnya, penggunaan bahasa daerah tertentu kerap memunculkan protes dari pembaca karena dianggap terlalu berpihak pada satu logat.
"Karena itu, redaksi akhirnya memilih jalan tengah dengan menggunakan bahasa yang lebih umum agar dapat dipahami pembaca lintas daerah, termasuk melalui rubrik yang menyasar kalangan remaja," ujarnya dalam acara Saresehan Bedhah Buku dan Santiaji Sastra Jawa oleh yang digelar Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) di Bojonegoro, Rabu 22 Juli 2026.
Perbedaan Bahasa Jawa Timur dan Jawa Tengah
Kukuh mengatakan, bahasa Jawa di Jawa Timur memiliki karakter yang berbeda dengan Jawa Tengah. Perbedaan tersebut tidak hanya terlihat pada kosakata, tetapi juga pelafalan atau logat yang memengaruhi penulisan dalam karya jurnalistik.
Ia mengungkapkan, sejak 1999 pernah dilakukan upaya menghimpun ragam bahasa Jawa Timuran sebagai bahan rujukan. Namun, persoalan ejaan masih menjadi tantangan hingga sekarang.
"Satu kata bisa berbeda penulisannya karena berbeda cara pengucapannya. Itu menjadi persoalan ketika harus ditulis dalam media," jelasnya.
Sastra dan Jurnalistik Bahasa Jawa Saling Melengkapi
Diskusi yang dimoderatori Ariyoko tersebut juga membahas hubungan antara sastra Jawa dan jurnalistik. Menurut peserta diskusi, naskah jurnalistik berbahasa Jawa tetap memiliki kedekatan dengan sastra Jawa karena menggunakan kekayaan kosakata dan gaya bahasa lokal.
Berbagai bentuk karya sastra, seperti gurit (puisi Jawa) dan cerita cekak, dinilai dapat menjadi sumber inspirasi dalam penulisan jurnalistik berbahasa Jawa yang menarik sekaligus mudah dipahami pembaca.
Bahasa Daerah Harus Tetap Dilestarikan
Budayawan Yanto Munyuk menilai bahasa daerah merupakan bagian dari kebutuhan manusia untuk menjaga identitas budaya. Ia mencontohkan bahwa bahasa dalam kesenian ludruk, tari remo, hingga lawakan memiliki struktur dan karakter khas yang berbeda-beda.
Menurutnya, bahasa Jawa Bojonegoro juga memiliki kekhasan tersendiri yang berbeda dengan bahasa Jawa Surabaya yang identik dengan sapaan "rek".
Sementara itu, dalam diskusi juga disampaikan bahwa Kabupaten Bojonegoro telah memiliki buku bahasa Jawa sebagai muatan lokal di sekolah. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa Jawa di tengah perkembangan zaman.
Hadir pula Pemimpin Redaksi Joyoboyo, yang turut mengikuti diskusi mengenai masa depan jurnalistik berbahasa Jawa sebagai media pelestarian bahasa, sastra, dan budaya lokal.