Aktivis AMPB Desak DPR Sahkan RUU Perampasan Aset dan Hukum Mati Koruptor
Situasi keamanan di Jakarta hingga pukul 12.00 cukup terkendali. Masyarakat beraktivitas seperti biasa, tidak terpengaruh oleh aksi demo di Depan Gedung DPR RI Jl. Gatot Soebroto Senayan, Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.
Salah satu elemen pedemo, Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) sudah memadati depan Gedung DPR sejak pagi. Mereka terlihat memasang spanduk dan banner berisi dua tuntutan agar DPR mengesahkan RUU Perampasan Aset Bagi Koruptor, dan tuntutan agar koruptor dihukum mati.
Sebelumnya di media sosial diviralkan demo ini akan diikuti ratusan ribu massa dari Lampung, Bandung, Cirebon, Bogor, Bekasi Depok dan Tangerang. Warganet memprediksi demo ini akan melumpuhkan Jakarta.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto, mengatakan, itu salah satu bentuk provokasi oleh sekelompok orang yang tidak menghendaki negaranya aman.
Aktivis AMPB, Supriyono alias Botok, bersama rekannya diterima oleh pimpinan DPR di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta. Mereka langsung menuju ruang rapat paripurna. Botok yang kenakan kaus dan topi bewarna hitam memasuki Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, sekitar pukul 10.00 WIB.
Botok turut didampingi Koordinator AMPB Teguh Istianto dan beberapa rekannya. Mereka, dipandu dengan sejumlah petugas keamanan berjas hitam.
Botok Cs langsung menuju Gedung Nusantara II. Setibanya, Botok Pati Cs langsung berjalan ke ruang rapat paripurna yang ada di Lantai 3. Sambil berjalan, Botok menyampaikan dipersilahkan masuk oleh pimpinan DPR.
"Iya, iya (sama pimpinan DPR RI). Iya, semoga aspirasi rakyat Indonesia ini direalisasikan, ya," katanya.
Dua tuntutan itu mendesak DPR agar mengesahkan RUU Perampasan Aset Bagi Koruptor dan tuntutan hukum mati bagi koruptor. Tuntutan kami hanya dua itu, tidak mengusik kepemimpinan Pak Prabowo Gibran," kata Botok yang datang dari Pati, Jawa Tengah.
Polisi Tangkap 65 Orang Jelang Aksi
Tim Preventive Strike Polda Metro Jaya menangkap 65 orang jelang aksi 27 Agustus di DPR, Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026. Kepolisian juga mengamankan sejumlah barang bukti mulai dari airsoft gun hingga bahan untuk bom molotov.
“Dari rangkaian ini ada 65 orang yang sudah diamankan oleh Ditreskrimum dan Ditsiber Polda Metro Jaya,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, dalam konferensi pers, Kamis.
Kata Budi, Polisi juga menyita barang bukti, antara lain, senjata tajam, airsoft gun, obat-obatan, perangkat komunikasi bahan ataupun benda untuk membuat bom molotov seperti tujuh jeriken berisi bensin dan 201 botol kaca berikut sumbu.
“Barang-barang yang dibawa yang ditemukan oleh tim preventif merupakan barang-barang yang tidak diperbolehkan oleh Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 dalam pengungkapan pendapat, tercantum Pasal 9 barang-barang yang tidak diperbolehkan dibawa pada saat menyampaikan aspirasi,” tutur Budi.
Saat ini Polda Metro Jaya masih melakukan pendalaman terhadap 65 orang tersebut. Termasuk mendalami apakah puluhan orang itu tergabung dalam massa aksi demo atau bukan.
“Ini masih dilakukan pendalaman apakah dari 65 orang yang diamankan merupakan bagian dari saudara-saudara kita yang menyampaikan aspirasi,” ucap Budi.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Djamari Chaniago, menyebut, ada beberapa orang yang ditangkap dan ditahan untuk diperiksa menjelang aksi demo 27 Agustus 2026.
Untuk mengamankan demo di depan Gedung DPR RI Jl Gatot Soebroto ini sebanyak 18.504 personel kepolisian dikerahkan untuk mengamankan aksi unjuk rasa yang digelar di sejumlah titik di wilayah Jakarta Pusat.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Reynold EP Hutagalung, mengatakan, pengamanan dilakukan dengan mengedepankan pendekatan humanis.
Dia memastikan kepolisian akan tetap memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi sesuai ketentuan yang berlaku.
"Kami hadir untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada seluruh masyarakat yang menyampaikan aspirasi. Anggota yang bertugas tidak membawa senjata api maupun senjata tajam. Kami mengedepankan pendekatan humanis, komunikasi, dan persuasif dalam melayani masyarakat," kata Reynold dalam keterangannya.
Pengamanan dilakukan secara berlapis untuk memastikan kepuasan aspirasi berlangsung aman, tertib, dan kondusif. Total ada enam zona pengamanan dalam aksi demo hari ini. Zona 1 meliputi Ring 1 DPR/MPR RI. Pengamanan mulai dilakukan sejak pukul 07.00 WIB dengan melibatkan sejumlah pejabat utama dan operator pengontrol.
Zona 2 meliputi sejumlah titik di sekitar kompleks DPR/MPR RI hingga Fly Over Semanggi. Zona 3 meliputi Pintu Escape SPARK, TVRI, TL Hotel Mulia dan TL Asia Afrika.
Selanjutnya, Zona 4 meliputi kawasan Gerbang Pancasila, sementara Zona 5 meliputi Pospol Palmerah, Stasiun Palmerah, Masjid DPR hingga Gedung LHK.
Sementara Zona 6 meliputi kawasan BPK RI, Lorong Warga dan Ladokgi Atas. Selain itu, personel juga disiagakan di kawasan Bundaran HI dan Dukuh Atas untuk mengantisipasi pergerakan massa serta dampak terhadap arus lalu lintas.
Reynold mengatakan dalam pelaksanaan pengamanan, personel kepolisian yang bertugas tidak membawa senjata api maupun senjata tajam.
Hal tersebut sebagai bentuk komitmen Polri mengedepankan pendekatan humanis dan persuasif dalam memberikan pelayanan serta pengamanan aksi unjuk rasa.
Lebih lanjut, Reynold juga mengimbau massa melakukan aksi untuk tidak melakukan tindakan anarkis maupun merusak fasilitas umum.
“Kami mengajak seluruh elemen yang terlibat untuk bersama-sama menjaga Jakarta Pusat tetap aman dan kondusif. Mari kita kawal penyampaian aspirasi ini agar berjalan dengan tertib, damai, dan tidak mengganggu keamanan maupun aktivitas masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu di luar Jakarta, polisi dikerahkan untuk menyekat demi mencegah massa berkumpul dengan aksi di depan DPR hari ini.
Polresta Tangerang menerjunkan sekitar 200 personel gabungan untuk melakukan patroli dan penyekatan pergerakan terhadap massa aksi 27 Agustus yang akan menuju Jakarta melalui gerbang tol hingga stasiun kereta untuk menggelar aksi di Gedung DPR RI, hari ini.
Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polresta Tangerang Kompol Raden Mochammad Sofian di Tangerang, Kamis mengatakan langkah pencegahan itu terfokus pada titik-titik rawan, mulai dari jalur perbatasan hingga kawasan stasiun kereta api.
Ia mengatakan untuk pola penyekatan dan pengamanan terhadap pergerakan massa aksi dipetakan di sejumlah titik krusial di berbagai objek vital serta kawasan terminal guna mencegah aksi mobilitas massal menuju Jakarta.