Cak Huda, Kiper Biasa yang Mengajari Kita Arti Setia....
Kabut duka masih menyelimuti bumi Lamongan. Kesedihan atas meninggalnya Kiper Persela Lamongan, Choirul Huda belum sirna. Ucapan belasungkawa terus mengalir mulai malam hingga pagi. Siapa sebenarnya pria yang akrab dipanggil Cak Huda ini?
Kematian tragis Choirul Huda usai berbenturan dalam laga Persela melawan Semen Padang, Minggu 15 Oktober 2017 memang memang menjadi tragedi memilukan bagi sepakbola dunia. Simpati berdatangan dari berbagai kalangan, baik dalam maupun luar negeri.
Namun bukan hanya peristiwa tragis itu yang membuat dunia bersimpati. Di kalangan pesepakbola nasional, Choirul Huda banyak memberikan pelajaran. Salah satunya adalah pelajaran tentang arti kesetiaan...
Ya, Cak Huda adalah satu-satunya pemain di Indonesia yang tidak pernah berpindah klub. Mulai awal karier hingga tutup usia selalu setia membela Laskar Joko Tingkir -julukan Persela. Merintis dari bawah bersama Persela di level Divisi II hingga akhirnya bisa naik ke kasta kompetisi tertinggi ISL pada tahun 1999.
Tercatat 18 tahun Huda setia jatuh bangun dan menjadi saksi perjalanan Persela. Angka yang tak biasa bagi pemain sepakbola. Semasa jaya-jayanya, Huda sama sekali tak tergiur dengan tawaran klub lain dengan nilai gaji lebih besar dibandingkan Persela Lamongan.
Namun Huda tak silau dengan gelimang harta. Tetap setia bersama tim dari tanah kelahirannya. Kesetiaan itu dibalas Pemkab Lamongan dengan mengangkatnya sebagai Pegawai Negeri Sipil pada 2012, "Apa lagi yang saya cari, di Persela sudah seperti keluarga sendiri, " ucap Cak Huda sekitar empat tahun silam.
Bersama Persela, Choirul Huda mencatatkan prestasi menjuarai Piala Gubernur Jawa Timur mulai tahun 2003, 2007, 2011 dan 2012. Prestasi terbaik di Liga Indonesia dicatatkan pada musim 2011/2012 ketika Laskar Joko Tingkir finis di peringkat ke 4 Liga Super Indonesia.
Karier Huda memang dihabiskannya bersama Persela. Hanya sempat merasakan berbaju Timnas Indonesia ketika menjalani pertandingan persahabatan pada tahun 2014 dan Asian Cup Qualification pada tahun 2015.
Waktu itu, usianya sudah tidak mudah lagi, sekitar 36 tahun. Tapi itu yang membuat pemain lain terutama para kiper muda angkat topi pada kemampuannya. Meski sudah termakan usia, refleks dan keberaniannya mengawal pertahanan terakhir banyak menuai decak kagum.
Choirul Huda yang mengidolakan kiper Italia, Gianlugi Buffon itu juga sempat dijuluki Si Raja Penalti. Penyebabnya, kerap kali bisa mengagalkan tendangan penalti lawan. Wajar, setiap sesi latihan Huda selalu menyempatkan diri melakukan 50 kali memblok tendangan penalti rekan-rekannya.
Sebagai pemain sepakbola, Huda tak selalu berada di atas. Bahkan sebelum tutup usia sempat duduk di bangku cadangan. Namun itu tidak membuatnya marah apalagi dendam. Justru kiper yang sudah 481 kali tampil bersama Persela itu termotivasi untuk bangkit kembali. Hingga akhirnya mendapatkan kepercayaan tampil sebagai penjaga gawang inti.
Jika dibandingkan dengan kiper lainya, Huda memang bukan siapa-siapa. Namun pelajaran yang diberikan kapten tim Persela itu tidak akan bisa dilupa begitu saja. Terutama pelajaran tentang arti kesetiaan....Selamat Jalan Cak Huda....!!tom